Sunday, November 17, 2019

Berbagi Asa


BERBAGI ASA


Saat itu pukul 14.00 di ibu kota Sulawesi selatan, kali ini aku akan keluar bersama semangat inspirasi yang akan kubagi ke pelosok negeriku. Yah aku keluar dari hiruk pikuknya ibu kota, mengistirahatkan jiwa sejenak dari keramaian.

Kini diriku berstatus volunteer.

Aku senang dengan status tersebut, karena aku sudah berhasil untuk keluar dari comfort zone yang selama ini terus mengekang. Aku memutuskan untuk menjadi seorang volunteer karena merasa waktuku sangat berharga jika hanya untuk aktifitas monoton di ibu kota. 


TIBALAH DIPENANTIAN

Kami tiba di desa patanyamang pada malam hari, yah tentu saja perjalanan kami selalu berhasil mengundang celotehan yang bermacam-macam serta diselingi candaan, sambil menikmati roller coaster perjalanan menuju lokasi dan dinginnya hembusan angin malam yang menerpa

Keesokan hari tepat pukul 08.00 kami bergegas kesekolah, dengan niat yang ikhlas, langkah kaki tak pantang menyerah dan suara gemuruh adik-adik yang memanggil kami dibalik sekolah, seakan mereka siap menyantap materi yang akan kami berikan. Mendengar suara mereka, melihat wajah mereka diriku tak sabar ingin berbagi energy positif dalam hal ini membagikan ilmu yang kupunya. Dan pagiku berkata SEMANGAT BERBAGI NIS. THIS TIME TO SHARE EVERYTHING!



SEMANGAT BERBAGI

Aku melangkahkan kaki menuju kekelas tempatku mengajar dengan senyum sumbringah di pagi hari dan membawa semangat yang selalu ON untuk mereka yang selalu ingin menyantap ilmu. Hingga aku membuka pintu dan menyapa mereka didalam ruang kelas.

Berbicara mengenai ruangan kelas mereka sudah layak menurutku, namun kelas yang kudapat harus berdua dengan kelas yang lain, iyah ada dua kelas dalam satu ruangan. Selebihnya 1 kelas 1 ruangan, ini mungkin karena murid dikelasku hanya berjumlah 3 orang sementara kelas sebelahnya berjumlah 6 orang, karena murid dikelasku sedikit jadilah mereka digabung dalam 1 ruangan tapi tetap ada sekat pemisah antara kelas yang satunya.

Ruangan kelas yang berdampingan tidak lantas membuat konsentrasi mereka ambyar, mereka tetap fokus terhadap ilmu yang aku tumpahkan, terhadap celotehan positif yang aku berikan. Hal itu juga yang membuatku semakin tercharge.

Aku terkesima saat tahu ternyata mereka aktif, ternyata mereka pintar, ternyata rasa ingin tahu mereka tinggi, ternyata mereka senang membaca, ternyata mereka dipenuhi energy positif, ternyata pula mereka memiliki cita-cita yang tinggi untuk masa depan mereka dan ternyata-ternyata lainnya yang tak sanggup kuungkap saking excitednya.

Aku sempat meneteskan airmata tatkala kuingat semangat mereka untuk terus menuntun ilmu itu sangat besar, saat mereka menceritakan cita-cita mereka. Didesa yang sangat jauh dari ibu kota dan berada di pelosok negeri ada anak negeri yang juga punya hal yang sama untuk digantungkan dilangit, iya itulah cita-cita, mereka memang dipelosok tapi cita-cita mereka tak kalah dengan teman mereka yang ada diluar sana yang sedang menikmati kemajuan teknologi, iya benar harus setinggi langit.



SEDIKIT CERITA

Kalo ditanya saya enjoy jadi volunteer? Tentu saja jawabannya tanpa ragu akan kujawab Ya karena tidak semua manusia tergerak hatinya untuk melakukan tugas semulia ini, mungkin mereka lebih memilih untuk berdiam diri. Tapi aku, tidak. Aku senang melakukannya karena aku peduli dengan pendidikan mereka, karena aku tau hidup Cuma sekali, karena aku tau aku harus berbagi apa yang kupunya, karena aku tau ada yang sangat membutuhkan ilmuku. Aku ingin menjadi salah satu anak bangsa yang bisa berkontribusi terhadap kemajuan bangsa meskipun aku tidak punya prestasi yang mendunia setidaknya hal kecil ini bisa membuatku bangga akan diriku dan berkontribusi untuk kemajuan bangsaku, setidaknya aku punya pengalaman yang mengesankan berbagi dipelosok negeri yang tidak semua orang bisa dan mau untuk terjun kesana. I’M SO PROUD TO MYSELF



Terima kasih kepada Tuhan yang telah menakdirkanku untuk hidup dan telah menakdirkanku untuk ikut serta dalam melaksanakan sila kelima pancasila dan mengabulkan doaku untuk menjadi manusia yang begitu bermanfaat, terima kasih atas takdir baik dan positif ini. Dan juga terima kasih kepada Rumah berbagi Asa yang telah memberiku kesempatan untuk turut ikut serta dalam kegiatan volunteer ini, berbagi semangat, berbagi ilmu dan berbagi asa untuk menciptakan pendidikan merata hingga kepelosok negeri.
Sampai jumpa dilain kesempatan dengan cerita dan keluh kesahku. Berbagi Asa

Tuesday, February 19, 2019

The Seniority



Sudahkah kalian mendengar berita mengenai kekerasan yang diterima taruna ATKP Makassar yang mengakibatkan taruna tersebut meninggal. Dari pihak keluarga mengklaim bahwa dia itu meninggal bukan karena jatuh dikamar mandi seperti yang diinformasikan salah satu penjaga asrama dari ATKP tersebut, menurut pihak keluarga taruna tersebut meninggal karena dianiaya, hal ini dikatakan karena adanya beberapa bukti memar yang terdapat pada tubuh korban. 

Sangat tidak masuk akal memang jika anak itu, meninggal karena jatuh di kamar mandi dengan bukti yang terdapat ditubuhnya. Dan semakin tidak masuk akal jika yang melakukan tindakan tersebut hanya 1 orang saja, hanya 1 orang tersangka, waahh. Kenapa anak tersangka itu tidak membeberkan semuanya saja yang menganiaya korban. Masa gebukinnya ramean trus giliran masuk lubang dia doang! Gak adillah. Seharusnya kasus ini menjadi perhatian lebih oleh pemerintah dan pihak sekolah untuk selalu memantau siswanya. Mereka setidaknya kepo terhadapa hal-hal yang biasa-biasa saja tapi akan berakibat luarbiasa dampaknya. Kalo sudah beginikan merusak reputasi sekolahnya sendiri, mana ada orangtua mau masukin anaknya kesekolah seperti itu. 

Ogut mulai bingung awal sejarah adanya senioritas itu kapan? Sejak kapan senioritas menjadi ajang adu pukul memukul, bukan adu pengetahuan. Senioritas yang tidak berfaedah. Katanya senior malah memberikan contoh seperti itu, untuk apa? Mendisiplinkan mahasiswa baru? Terus harus dengan tindak kekerasan, sampe makan korban, terus nyalahin sana nyalahin sini. Kalo udah makan korban aja mereka pada menciut kayak balon. Apa mereka memiliki hati nurani, masih pantaskah dia disebut sebagai manusia, masa nyawa saudara sendiri dihilangkan. Masa tega nyiksa orang asing yang baru lo kenal. Kalo lo udah nyerasaain disiksa, dihina, dimaki, dipukul sama senior terdahulu setidaknya jadikan pelajaran buat lo supaya tidak mengulangi hal yang sama, kita harusnya berpikir kedepan bukan malah kebelakang. soalnya non faedah banget. Tapi nyatanya lo malah mau balas dendam kayak gini. Jangan sok jadi jagoan, karena ujungnya jeruji besi boss.

Generasi selanjutnya itu kita, para milenials kalo selama masa pendidikan kerjaan lo 11 12 sama preman saat di sekolah/kampus, lo mau bawa kemana Negara kita coy, lo tuh orang terpelajar setidaknya posisi lo mencerminkan perilaku lo, karena lo beda sama mereka status social lo lebih tinggi dibanding mereka yang gak berpendidikan, jadi setidaknya lo tuh tau hal positif apa yang biasa dilakukan untuk semua orang, menjadi bermanfaat ajalah. Lo mau punya muka sama orang tapi yang lo lakuin gak berprestasi sama sekali zonk-lah.

Apa salahnya kalo dia punya salah lo nasehatin dengan baik, bukan malah digebukin. Jangan mentang-mentang senior dan lo mau berbuat seenaknya kemereka, berbuat sesuatu yang gak masuk diakal banget gitu. Karena roda kehidupan itu berputar coy, gak selamanya dia akan selalu jadi junior lo dan lo jadi seniornya. Kita gak tau dikehidupan selanjutnya dia bakal jadi boss dan ngebantu kita sebagai seniornya, tapi kalo sikap lo kayak gitu, junior lo bakal sok gak kenal sama lo itu karena dosa lo terdahulu, yang sok jagoan itu, senioritas tanpa batas. 

Mereka kesekolah/perguruan tinggi bukan untuk jadi budaknya elo, tapi mereka mau menimba ilmu dan always stay humble with u, jadi senior-junior tanpa senioritas. Orangtua mereka mengirim mereka untuk mengenyam pendidikan bukan untuk menikmati sebuah siksaaan tapi menikmati indahnya ilmu pengetahuan. Seharusnya senior itu bisa diajak bertukar pendapat, atau menjadi kawan curhat tentang hal apapun. Tapi sebagian dari senior itu, mereka ingin memperlihatkan kalo gue ini senior lo dan lo harus patuh sama gue karena gue yang tua. Dan kalo lo gak patuh tunggu bagian lo, mereka gak segan-segan gitu.

Sedih sih, melihat ada system seperti itu disekolah/ dimanapun itu. Semoga kedepannya para tenaga pengajar bisa lebih memperhatikan mereka. Dan melakukan blacklist pada orang tersebut. Sangat disayangkan jika kedepannya hal seperti itu berkembangbiak.
Semoga semuanya cepat teratasi. Dan senior-junior kembali pada posisi normal lagi.



Monday, November 26, 2018

Disabilitas tanpa batas


Assalamu Alaikum, readers!

Hari ini saya membagi sedikit cerita tentang apa yang terjadi kemarin. Karena bosan lihat layar hape dan gak ada kerjaan, untuk mengisi waktu luang timbullah rasa ingin buat nulis, ngecharge diri buat nulis itu harus sangat sangat berusaha keras. Meskipun ada beberapa topik yang mau saya bahas tapi rasa mager itu mengalahkan segalanya teman-teman. Saya kira ada beberapa orang yang hampir sama dengan saya. Ehheeh
Oke, beberapa hari yang lalu saya kekampus untuk mengurus beberapa urusan yang mahasiswa tingkat akhir harus penuhi, saya hari itu mau mengajukan judul skripsi saya ke dosen pembimbing saya . karena eh karena beliau belum datang jadilah saya menunggu di depan ruang dosen, setelah beberapa menit, saya mulai bosan karena beliau belum nampak, jadilah saya berjalan menuju “meja panjang”, we called this meja panjang karena meja sama tempat duduknya emang panjang gak tau berapa meter yang jelas panjang, ditempat ini biasa ditempati oleh kami para mahasiswa buat kerja tugas atau sekedar duduk menunggu.
Tak lama kemudian saya dengar ada yang menjual kripik pisang, dan menolehlah saya karena si bapak ini tadi suaranya lumayan besar, kemudian dia mulai menjajakan jualannya ke beberapa mahasiswa yang ada di meja panjang tersebut which is yang saya tempati buat menunggu tadi, disitu si bapak ini pegang tongkat, ternyata dia gak bisa melihat tapi dia tetap jualan gitu. Dan kripik pisang yang si bapak jual ini banyak sekantong gede itu loh, dan di bawa seorang diri dengan mengandalkan tongkatnya. Bapak ini terus berteriak buat menjajakan jualannya. Setelah itu mungkin dia mulai lelah jadi si bapak ini duduk di meja panjang dengan caranya sendirilah, taukan kalo orang yang gak bisa melihat mau duduk kayak gimana, ga perlu saya jelaskan lagi yang jelas dia ngandalin tongkat dan tangan itulah. Setelah duduk dia mulai teriak lagi sebagaimana penjual pada umumnya. Disini saya diam karena saya mau melihat apa reaksi dari orang-orang yang ada disana, jadi saya memilih tetap diam dulu di tempat, mencermati dan beberapa menit tak terjadi apa-apa. Kemudian si bapak ini mulai jalan lagi, si bapak ini tepat ada di depan meja tempat saya duduk, dan disitu dia berdir dan berteriak “kripik pisang...”, lalu ada beberapa yang menengok si bapak, abis itu sudah mereka asik lagi dengan kesibukan mereka masing-masing. Setelah itu mungkin si bapak mulai lelah dia mulai berjalan lagi duduk di tempat yang sama. Karena saya penasaran sama jualan si bapak ini jadilah saya menghampiri si bapak ini, dan bertanya berapa harga si kripik pisang yang dia jual, ternyata harganya 10rb, lalu saya memberi bapak ini uang 5rb 2 lembar, kata si bapaknya ini uang berapa dek yah saya bilang apa yang saya kasihlah. Trus saya mulai ke tempat saya yang tadi dan ada beberapa orang yang mulai melihat saya ada yang heran dan ada yang hanya menengok mungkin dia penasaran. Dan tak berapa lama kemudian si bapak ini pun pindah ketempat duduk sebelah tepat seluruh dengan tempat duduk yang saya tempati, kemudian muncullah 4 orang junior saya yang juga membeli kripik pisang si bapak, yang saya amati dari jauh sepertinya mereka bercakap-cakap yang, dan sesekali tertawa kecil. Lalu tak lama setelah itu teman saya inisial I itu juga ingin membeli si kripik pisang bapak ini, jadi kita berdua menghampiri si bapak ini, ini sudah kali kedua saya kebapak itu, dan akhirnya saya tidak melewatkan sesuatu akhirnya saya bisa berbicara dengan sibapak ini, alias basa basi gitulah, iseng-iseng nanya nih, saya nanyanya lumayan banyaklah, dan guys ternyata si bapak ini udah jualan 6 tahun dengan mata yang tidak bisa melihat ini, dan disini saya tu merasa waah, hebat yah si bapak ini memiliki keterbatasan tapi gak membatasi dia harus mencari nafkah, dia berjualan di beberapa kampus di makassar dan tinggal di jl.kumala katanya which is itu jauh banget gitu loh, buat sampe ke Univ saya, usut punya usut si bapak ini katanya jalan menjajalkan si kripik pisang mengandalkan Allah dan instingnya. Dan yang buat saya makin kagum sama ini bapak karena dia itu bisa berbahasa inggris, karena dia nanya ke saya pake bahasa inggris yang biasa orang pake buat basa basi kenalan gitu, and then you know i’m so surprised, saat tau ternyata dia sangat peduli dengan yang namanya pendidikan, gak mau ketinggalan, cuman keadaan aja yang membuat dia seperti ini tapi semangatnya untuk belajar bahasa tidak pantang menyerah, si bapak ini juga bilang kalo meskipun saya punya keterbatasa tapi saya tetap harus punya pengetahuan meskipun sedikit, yah benar 100% banget karena meskipun kita punya berbagai keterbatasan tapi jangan jadikan alasan buat kita untuk malas terhadap apapun itu. Tidak ada kata untuk menyerah. Apalagi terlambat. Sumpah saya appreciated sekali sama si bapaknya, dari pada mereka yang ngemis apalagi ngemisnya kayak rada maksa, Ya Allah ampun aku tuh. Di Univ saya juga kadang ada pengemis dan saya tuh kadang gak ngasih karena mereka tuh fisiknya kuat, fisiknya gak kayak si bapak ini, tapi mereka malas kerja, setidaknya berusahalah jangan maunya diberi ajalah. Saya kalo ada pengemis begitu kadang malas buat memberi gak tau kenapa kayak mereka tuh gak ada usaha banget gitu buat nyari kerja. Belum lagi kalo yang kayak gitu anak-anak, astaga ngeri beud. Banyak juga yang kadang bilang udah kasih aja urusan dia mau apain juga itu urusan dia yang jelas kita udah kasih terserah dia mau diapain, yakali saya pemikirannya gak gitu. Saya lebih menghargai kalo dia ada usaha ketimbang tangan di bawah. Ohiya, terima kasih untuk si bapak ini (lupa tanya namanya guys. Hehe) karena ada beberapa pelajaran yang bisa saya petik dari semangat dia untuk hidup dengan keterbatasan dan mampu untuk tetap semangat belajar.

Sunday, July 22, 2018

Bukan popularitas aja, Perlu Kapabilitas


Assalamu Alaikum, readers

     Tahun ini adalah tahunnya politik, jadi perlu waspada bertindak ataupun bercakap. Beberapa waktu lalu pemilu serentak dibeberapa daerah di Indonesia dilaksanakan, sekarang caleg. Di siaran tv, artikel dan media lainnya semua membahas mengenai caleg menyaleg.
     Partai-partai politik peserta pemilu baru saja mendaftarkan bacaleg DPR ke komisi pemilihan umum dengan latarbelakang yang berbeda-beda. Salah satu yang di usung bacaleg itu para artis, tapi tentunya para pegiat dunia hiburan ini harus memiliki kapabilitas, kapasitas, intelektual dan integritas, jika hanya modal popularitas saja maka bagaimana kinerja mereka kedepannya jika memang terpilih menjadi legislator.
      Nah, disini harus juga ada campur tangan dari partai yang mengusung nama – nama artis sebagai bacalegnya yang bukan hanya memerhatikan popularitasnya, yah memang jika menjadi seorang caleg atau pendiri negeri ini harus memiliki popularitas agar mereka mendapatkan suara yang banyak di dapil yang telah ditujukan padanya, dan terpilih menjadi legislator. Tapi diatas semua itu ada yang paling penting yaitu kompetensi, capability dan kapasitas si bacaleg ini, karena mereka tidak hanya duduk berleha – leha diatas kursi empuk pemerintahan, tapi mereka harus bekerja keras untuk membela rakyat, membela masyarakat, menyuarakan suara rakyat yang telah memilihnya, yang memberikan kepercayaan dan perpanjangan tangannya kepada wakil rakyat. Jadi, legislator atau wakil rakyat tidak hanya menang popularitas semata saja. Karena memperjuangkan kepentingan publik tidak semudah membalikkan telapak tangan kita.
       Seorang bacaleg ataupun caleg harus memiliki latarbelakang pendidikan yang baik, latarbelakang organisasi yang banyak karena dengan itu kita bisa dianggap berkompeten. Wakil rakyat harus cerdas, kritis, pekerja keras (masih banyak lagi kayak mendekati perfect gitulah) terhadap rakyat ataupun pekerjaan mereka. Untuk itu semua harus benar-benar disaring dan di pertimbangkan sebelum dipilih.
Tidak sedikit dari kalangan artis yang menang dalam pemilihan legislatif namun menunjukkan kerja kurang menonjol, namun tidak sedikit pula yang yang menunjukkan kerja yang sangat memukau.              
           Mengapa ada beberapa yang kurang baik, dimana spekulasi saya kemungkinan karena mereka melakukan double job, dimana dia masih aktif juga sebagai pekerja seni. Sebaiknya mereka harus pandai memilih satu diantara dua pekerjaan tersebut agar tidak ada yang korban, agar publik juga tidak pesimistis terhadapnya. Tapi di lain hal ada juga lagislator yang nonartis yang memiliki kinerja kurang bagus.
     Akhir dari tulisan saya ini yaitu menurut saya untuk para bacaleg atau caleg (artis ataupun nonartis) mereka harus dapat diandalkan oleh publik untuk memperjuangkan kepentingan publik ketika telah terpilih nantinya. Jangan hanya duduk nyaman dan cantik di kursi pemerintahan.


Thursday, January 11, 2018

Digitalisasi

Setiap orang yang hidup di muka bumi ini, so pasti diberi akal sama pikiran kan! Tapi sebagian dari kita itu tidak suka berpikir keras menggunakan otak yang kita miliki sendiri yang dimana kita hanya cenderung berfikir kalau ada orang lain, ada orang lain. Kita terlalu fokus sama bantuan orang lain, terlalu terlena dengan kesantaian.

Sangat santai tidak dibolehkan juga. Karena bangsa kita menginginkan pemuda pemudi yang berkompeten dalam negara, bukan yang acuh.

Sekiranya di zaman modern serba teknologi ini tidak ada waktu untuk bermalasan terhadap suatu pekerjaan, penundaan akan sesuatu membuat sia sia belaka, toh apa salahnya jika kita mengerjakannya, manfaatkan apa yang menjadi fasilitas kita, percuma dong kalian punya fasilitas yang begitu lengkap sedang kalian tidak gunakan untuk hal positif yang bisa meningkatkan jati diri kalian pribadi. Kita harus bersyukur hidup di keadaan yang bisa dibilang memuaskan sehingga semuanya tidak terbilang rumit. Sekali enter langsung ada, sekali oke langsung muncul itulah  "the power of technology"

Teknologi yang bisa kalian genggam, tidak ada gunanya kalau kalian tidak manfaatkan, percuma kita punya yang paling canggih tapi tidak bisa mengendalikan. Teknologi dibuat tidak untuk mencontohi yang buruk dan berteknologi juga harus tetap mempertahankan nilai budaya yang dianut suatu masyarakat tanpa melupakan etika dan moral sebagai pengguna. Efek dari teknologi, Kebanyakan dari kita anak indonesia terlalu fokus dengan apa yang budaya luar kerjakan dan bersifat negatif menurut pandangan orang. Misalnya cara berpakaian yg kebarat-baratan yang pada kenyataanya kita tidak bisa menyangkal kalo kita ini negara ketimuran. Kenapa kita tidak contoh etos kerja mereka, kemajuan mereka dalam era modern, dan sifat mandiri mereka Serta fokus mereka terhadap suatu tanggungjawab. Mari meninggalkan yang buruk dan mengembangkan yang baik. Jangan sampai era digital kita hanya diperbudak oleh teknologi.

Asah kemampuan kita. Cobalah tidak menggunakan apa yang menjadi ide orang lain, berusaha untuk melakukan perubahan pada diri kita.  Memanfaatkan seluruh fasilitas berbintang yang kita punya, dan tunjukkan hasilnya pada dunia.

Monday, November 13, 2017

Berbau Judgemental

Banyak sangat banyak, di zaman sekarang orang ngejudge tanpa mikir apa yang di rasakan oleh orang yg dia judge, i know itu bukan urusan kalian, tapi keperihan hati yang mereka rasakan, itu bukan hal yang main-main. Kalian selalu mengejudge orang dengan melihat apa yang benar-benar hanya tampak dari luar mereka,  don't judge people from the cover. Yah it's so so so right guys.

Apa sosial media kalian hanya untuk melakukan penyindiran pada orang lain? Apa itu memberi rasa puas pada kalian setelah nyinyir dan menyakiti hatinya. Oke mereka banyak yang diam akan kegeraman jari jemari kalian yang lihaii akan bahasa tak berkemanusiaan, itu bukan karena mereka terlalu tegar, always be stonger, no u're so wrong. Dia hanya memendam dan merasakan kesakitan ini sendiri. Karena mereka berkoar mengenai perasaan yang mereka rasakanpun rasanya tak berhak, because some of the netizen like to judge people. Kalian harus memanusiakan manusia itu benar-benar sebagai manusia, hargai apa yang menjadi pilihan serta keputusan mereka.

Tak bisakah mereka memilih haknya sendiri, untuk apa kalian memberi komentar dan menyindir yang tidak baik, untuk apa memaksa otak berfikir untuk menjatuhkan orang. Kalian sebagai manusia yang diberi otak super dapat memilih kata yang baik yang menasehati tanpa harus berkata kasar. Apa dengan nasehat kasar, apa dengan judge yang kalian lontarkan akan merubah segalanya. IT'S NOT, Oh come on u so wrong guys, pikirkan perasaan orang yang kalian hakimi, orang yang kalian sindir, orang yang kalian benci, jadilah manusia dengan menasehati tanpa harus berkata kasar, berkomentarlah dengan komentar positif dan membangun, berkomentarlah sesuai dengan tingkat intelektualitas kita, kodrat kita sebagai manusia itu sempurna jangan di jelekkan dengan statement yang tak berkemanusiaan.

Semua orang berhak atas dirinya, kita memang berhak atas komentar tapi dengan cara dan bahasa yang manusiawi, Kita memang benci dengan dirinya, tapi bencilah sewajarnya saja, kita tidak tau di kehidupan kemudian mungkin saja orang yang kita judge itu akan menjadi penolong di saat susah dan senang.

Tuesday, October 17, 2017

Wearing The Hijab

         Banyak dari teman – teman yang sebenarnya sudah tau tetapi, mereka malah menutup telinga akan hal ini, atau mereka enggan berjilbab dengan alasan belum siap, atau daripada berhijab tapi perilaku nggak karuan mending gak usah, jilbabin hati dululah, dan parahnya ada yang gak tau sama sekali kalo pake jilbab tuh wajib hukumnya dalam Islam. Jilbab itu identitas seorang muslimah, serta mahkota pula bagi kita. Kita yang tinggalnya di Indonesia nggak ada yang anehkan dengan orang yang sedang memakai jilbab, mudah pula, gak sama dengan mereka yang menjadi diaspora yang menjadi minority, belum tentu individu yang ada di negara itu open sama wanita berjilbab.
Kenapa sih kita harus berjilbab? Nah jawabannya jelas nih didalam al – quran terdapat dalam Q.S An – Nur:31 dan Q.S Al- Ahzab: 59. Untuk apa menunggu datangnya hidayah, bagaimana kalau kalian meninggal duluan terus hidayah gak datang-datang yah gak bakal pake dong. Hidayah itu dijemput bukan di tunggu, dijemput dengan cara memperbanyak ikut majelis ilmu yang mengkaji tentang agama kita, bergaul dengan orang yang akan membawa kita ke syurganya Allah, dengan itu hidayah akan muncul dengan sendirinya.
Banyak juga yang mau merubah sifatnya dulu baru mau berhijab. Kalau sifatnya gak keubah bagaimana mbak  ? Saya pernah membaca kata– kata di instagram yang bunyinya seperti ini, jagalah shalatmu kelak dengan shalat itu kamu menjadi baik. Nah sama aja tuh kalo kita pake aja dulu jilbabnya terlepas dari kata kita bukan orang baiklah apalah itu, lama kelamaan jilbab itu yang akan menjadi rem bagi kita, menjadi rem bagi kita untuk mengubah sikap, sifat dan perilaku kita menjadi baik menuju jalan yang lurus terang benderang hehe.. Adapula yang bilang jilbabin hati aja dulu, takutnya nanti ujung –ujungnya dibuka lagi jilbabnya, kan mempermainkan agama, maka dari itu di awal saya bilang berjilbab itu wajib, agar tetap kokoh jilbabnya di kepala mesti diikuti dengan embel – embel bermanfaat seperti  ikut majelis ilmu, memperbanyak teman yang ilmu agamanya lebih luas, mengkaji islam lebih dalam, agar merasakan nikmatnya dan tetap istiqamah, untuk mendapat keindahannya jangan pernah menjadi orang yang introvert terhadap sekitar.
Seseorang pernah berkata demikian, Kalian tau tidak pada zaman dulu salah satu perbedaanya bangsawan sama rakyat jelata apa ? itu dari segi pakaian mereka, dimana para bangsawan yang pakaiannya tertutup dan yang budak itu yang gak karuan. Kenapa kita justru terbalik gitu. Islam itu mengatur kita dalam berpakaian, karena kita ingin terlihat sebagai umat yang bak seorang bangsawan
Jilbab tidak membatasi kita sebagai perempuan dalam beraktifitas tapi dia menjaga kita dalam beraktifitas, melakukan hal yang memang sudah menjadi kodrat seorang wanita muslimah, berjilbab bukan penghalang atas karier kita, bahkan dia memprotect kita dari segala hal yang memang bukan ditujukan pada seorang wanita muslimah.



Secangkir Kopi

CERITA DIBULAN JULY

Hari ini terasa sesak, sampai-sampai bernafas pun susah. Leen merasa tak berdaya kali ini ketika mendengar berita buruk yang datang. Tak...